Jumat, 03 Juni 2016

Sejarah Gedung Sate Yang Indah dan Cerita Dukanya

Sejarah Gedung Sate Yang Indah dan Cerita DukanyaPeletakan batu pertama Gedung Sate dilakukan oleh Johanna Catherina Coops, puteri sulung Walikota Bandung saat itu yaitu B. Coops, dan Petronella Roelofsen, mewakili Gubernur Jenderal di Batavia yaitu J. P. Graaf van Limburg Stirum, pada tanggal 27 Juli 1920. Pembangunannya melibatkan 2000 pekerja yang terdiri dari 150 pemahat atau ahli bongpay pengukir batu nisan dan pengukir kayu berkebangsaan Tiongkok yang berasal dari Konghu atau Kanton. Selain bongpay, pembangunannya juga dibantu oleh tukang batu, kuli aduk, dan peladen yang berasal dari penduduk Kampung Sekeloa, Kampung Coblong Dago, Kampung Gandok, dan Kampung Cibarengkok.

Pembangunan Gedung Sate memakan waktu selama 4 tahun, selesai di bulan September 1924 berupa bangunan induk utama, kantor pusat PTT (Pos, Telepon, dan Telegraf), dan Perpustakaan. Banyak yang memuji gedung ini, terutama dari kalangan arsitek dan ahli bangunan. Gedung Sate dinilai sebagai bangunan monumental yang anggun dengan gaya arsitektur yang unik mengarah kepada bentuk gaya arsitektur Indo-Eropa dengan sentuhan keanggunan Candi Borobudur.

Selain D. Ruhl yang menyatakan keindahan Gedung Sate pada bukunya yang berjudul Bandoeng en haar Hoogvlakte (1952), Ir. H. P. Berlage juga menyatakan bahwa “Gedung Sate adalah suatu karya arsitektur besar, yang berhasil memadukan langgam timur dan barat secara harmonis” pada saat kunjungannya di bulan April 1923. Duo arsitek Belanda Cor Pashier dan Jan Wittenberg ikut pula menyatakan pendapatnya akan kemegahan Gedung Sate, “langgam arsitektur Gedung Sate adalah gaya hasil eksperimen sang arsitek yang mengarah pada bentuk gaya arsitektur Indo-Eropa”.

Ir. J. Gerber sebagai arsitek utamanya memadukan beberapa aliran ke dalam rancangan Gedung Sate. Untuk bangunannya Gerber mengambil tema Renaissance Italia, sementara untuk jendelanya adalah Moor Spanyol. Menara Gedung Sate merupakan aliran Asia berupa gaya atap pura Bali atau pagoda di Thailand.

Pada puncak menara terdapat tusukan yang terlihat seperti tusuk sate karena menusuk 6 buah benda bulat seperti sate, versi lain menyebutkan melati atau jambu air. 6 buah sate ini melambangkan biaya yang dihabiskan untuk membangun gedung ini yaitu sekitar 6 juta gulden. Tampak depan (façade) Gedung Sate mengikuti sumbu poros utara-selatan yang dibangun menghadap Gunung Tangkuban Perahu di sebelah utara.

Awalnya Gedung Gouvernement Bedrijven dibangun untuk menjadi gedung bagi Departemen Lalu Lintas dan Pekerjaan Umum, kemudian menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda di saat Batavia dianggap sudah tidak memenuhi syarat sebagai pusat pemerintahan karena perkembangannya, hingga akhirnya digunakan oleh Jawatan Pekerjaan Umum. Kini Gedung tersebut digunakan sebagai Kantor Gubernur sesuai dengan fungsinya yaitu sebagai pusat kegiatan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Awalnya Kantor Gubernur bertempat di Gedung Kerta Mukti di Jalan Braga Bandung, tapi kemudian dipindahkan ke Gedung Sate pada tahun 1980.

Keindahan Gedung Gouvernement Bedrijven tidak terletak pada bangunannya saja, tapi juga didukung dengan taman di sekelilingnya yang dirawat dengan cukup baik. Tidaklah mengherankan jika taman ini sering dijadikan lokasi pemotretan foto pra-wedding, keluarga, pribadi, hingga menjadi lokasi syuting video klip artis lokal dan nasional. Dilihat dari fungsi, letak, lanskap, dan berdiri di tengah kompleks hijau lengkap dengan menara sentralnya membuat Gedung Sate dijuluki sebagai “Gedung Putih”nya kota Bandung.

Gedung bernama Gouvernement Bedrijven yang kemudian disebut sebagai Gedung Sate mulai dari tahun 1970an ini tidak hanya memiliki sejarah indah, tapi juga memiliki cerita duka di masa lalu. Tepat 70 tahun yang lalu, yaitu pada tanggal 3 Desember 1945, terjadi tragedi memilukan di gedung bersejarah ini. Nyawa tujuh orang pemuda melayang akibat berusaha untuk mempertahankan Gedung Sate dari serbuan tentara Gurkha yang di belakangnya ada tentara Inggris dan Belanda.

Tentara Gurkha merupakan orang-orang dari Nepal yang terkenal keberaniannya dan kekuatan fisiknya dalam berperang menggunakan pisau khas mereka yaitu kukri. Akibat dari Perjanjian Damai yang dinamakan Perjanjian Sugauli pada tahun 1816, tentara Gurkha kemudian menjadi tentara kontrak yang melayani Perusahaan Hindia Timur Britania.

Pada tahun 1945, setelah Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus, bangsa Indonesia mengalami suasana euforia. Di tengah suasana suka cita tersebut, Belanda ternyata belum bisa menerima kenyataan diusir dari Indonesia. Bersama Inggris, Belanda menghimpun kekuatan untuk dapat merebut sejumlah aset salah satunya adalah Gedung Sate. Pertempuran pecah pada tanggal 3 Desember selama hampir 2 jam yang mengakibatkan sejumlah orang tewas. Meskipun berhasil mempertahankan, pihak Gedung Sate terpaksa harus kehilangan nyawa tujuh orang pemuda. Lima jasad ditemukan, sedangkan dua jasad lagi tidak ditemukan.

Sejarah Gedung Sate Yang Indah dan Cerita Dukanya
Lima orang pemuda yang jasadnya ditemukan pada peristiwa mempertahankan Gedung sate tersebut bernama Muchtarudin, Suhodo, Susilo, dan dua lagi tidak diketahui namanya. Sementara itu dua orang yang tidak ditemukan jasadnya diyakini bernama Rana dan Rengat.

Untuk mengenang peristiwa tersebut, dibuatlah sebuah prasasti pada tanggal 31 Agustus 1952 sebagai bentuk penghormatan kepada tujuh orang pemuda tersebut. Awalnya prasasti berbentuk batu itu terletak di halaman belakang Gedung Sate. Kemudian pada tanggal 3 Desember 1970, prasasti tersebut dipindahkan ke halaman depan Gedung Sate atas perintah Menteri Pekerjaan Umum saat itu. Posisinya tepat berada sejajar dengan pintu masuk dengan dikelilingi taman dan air mancur.

Tak hanya itu, saat ini Bangunan bersejarah nan mengagumkan tersebut selalu menjadi wisata menarik, bahkan menjadi objek bagi kaum muda berkespresi dalam merayakan pagelaran seni, budaya maupun pentas seni lainnya.

Gedung Sate Bandung dan Lapangan Gasibu

Gedung Sate BandungGedung Sate Bandung dan Lapangan Gasibu ini lokasinya berdekatan dan lapangan Gasibu ini juga menjadi penghubung antara Gedung Sate dengan sebuah taman yang membentang sampai ke kawasan Kampus Universitas Padjajaran. Mungkin karena hal itulah, lapangan ini juga sering dijadikan sebagai sebuah tempat berkumpulnya banyak masyarakat Kota Bandung.

Lapangan Gasibu tidak hanya difungsikan sebagai sarana tempat berolahraga orang dari Bandung saja, namun gasibu juga sangat ramai sekali dan banyak para pedagang pada waktu hari minggu. Tidak heran kalau pada hari minggu di lokasi Gasibu ini akan menjadi super macet. Lapangan Gasibu ini juga sering digunakan para promotor even yang ingin menyelenggarakan sebuah acara di lapangan ini.

Gedung Sate merupakan salah satu ikon dari kota Bandung yang sekarang juga telah menjadi salah satu tempat wisata di Bandung. Khusus untuk wisatawan mancanegara banyak dari mereka yang memang sengaja datang berkunjung karena mempunyai keterkaitan history pada Gedung ini. Keterkaitan dengan history ini mungkin akan jauh terasa lebih lengkap jika pada saat menaiki anak tangga satu per satu yang tersedia menuju menara Gedung Sate. Terdapat 6 tangga yang harus dilewati dengan masing-masing 10 anak tangga yang harus dinaiki oleh pengunjung.


Keindahan dari Gedung Sate juga dilengkapi dengan adanya taman disekelilingnya yang terpelihara dengan sangat baik, tidak heran jika taman ini banyak diminati oleh masyarakat kota Bandung dan banyak para wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang berkunjung kesini. Keindahan yang dimiliki taman ini sering dijadikan lokasi kegiatan yang mempunyai nuansa kekeluargaan, lokasi shooting video klip musik baik untuk artis lokal maupun artis kelas nasional, lokasi foto keluarga atau foto diri sendiri bahkan foto pasangan pengantin.
Lapangan Gasibu Bandung


Khusus pada waktu hari minggu lingkungan dari halaman Gedung Sate dijadikan sebagai pilihan tempat sebagian besar masyarakat Bandung untuk bersantai, sekedar duduk-duduk dan menikmati udara segar di kota Bandung atau untuk berolahraga ringan.

Membandingkan Gedung Sate ini dengan bangunan-bangunan dari pusat pemerintahan (capital building) yang ada di banyak ibukota negara sepertinya tidak terlalu berlebihan. Persamaannya yaitu semua dibangun di tengah kompleks hijau dengan memiliki menara sentral yang megah. Terlebih lagi dari segi letak gedung sate serta lanskapnya yang relatif cukup mirip dengan Gedung Putih di Washington, DC, Amerika Serikat. Bisa juga dikatakan kalau Gedung Sate adalah “Gedung Putih” nya kota Bandung.

Di bagian timur dan bagian barat terdapat dua ruangan besar yang akan mengingatkan pada sebuah ruang dansa (ball room) yang sering ada pada bangunan Eropa. Ruangan ini sekarang lebih sering dikenal dengan sebutan aula barat dan aula timur, dan sering digunakan untuk kegiatan resmi. Di sekeliling kedua aula ini juga terdapat ruangan-ruangan yang ditempati beberapa Biro dengan Stafnya.

Pada bagian paling atas terdapat lantai yang disebut Menara Gedung Sate, lantai ini tidak bisa dilihat dari bawah, untuk dapat sampai ke lantai teratas bisa menggunakan Lift atau dengan naik tangga kayu.

Kesempurnaan dan kemegahan yang dimiliki Gedung Sate juga dilengkapi dengan adanya Gedung Baru yang mengambil sedikit dari gaya arsitektur Gedung Sate namun dengan menggunakan gaya konstektual hasil karya dari seorang arsitek bernama Ir.Sudibyo yang dibangun pada tahun 1977 diperuntukkan bagi para Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah di Provinsi Jawa Barat dalam melaksanakan tugas dan fungsinya juga sebagai Lembaga Legislatif Daerah.

Lokasi Gedung Sate yang merupakan salah satu tempat wisata di Bandung ini berada di Jalan Diponegoro No. 22, Kelurahan Cihaurgeulis, Kecamatan Coblong. Lingkungan sekitar Gedung Sate merupakan suatu kawasan yang bersejarah, karena bangunan kuno peninggalan dari masa Kolonial Hindia Belanda di Bandung relatif banyak, seperti Museum Geologi, Museum Pos Indonesia, Gedung Dwiwarna, Rumah Tinggal dan lain sebagainya.

Secara Geografisnya Gedung Sate ini berada pada koordinat 107º37’07,9″ BT dan 06º54’05,4″ LS, dan disekitar gedung sekarang telah banyak berdiri bangunan perkantoran, pemukiman, dan pertokoan. Untuk dapat mencapainya relatif mudah karena melalui jalan raya dengan kondisi yang baik, menggunakan kendaraan pribadi roda 4 atau 2 maupun naik kendaraan umum (Bis/Angkot) yang lewat kawasan ini relatif banyak.

Untuk lebih mempermudah perjalanan wisata Anda menuju lokasi-lokasi tempat wisata di Bandung bisa memesan paket wisata Bandung dan jika Anda ingin lebih berhemat sewaktu liburan ke kota Bandung bisa mencari referensi hotel murah di Bandung. Jika Anda berasal dari jauh, setidaknya memesan mobil di rental mobil bandung yang sudah termasuk supir dan guide nya, demi kenyamanan dan kelancaran perjalanan wisata Anda. Selamat liburan ke Gedung Sate dan Lapangan Gasibu di Bandung dan tujuan wisata paling menarik lainnya seperti Kawah Putih!!Gedung Sate Bandung dan Lapangan Gasibu ini lokasinya berdekatan dan lapangan Gasibu ini juga menjadi penghubung antara Gedung Sate dengan sebuah taman yang membentang sampai ke kawasan Kampus Universitas Padjajaran. Mungkin karena hal itulah, lapangan ini juga sering dijadikan sebagai sebuah tempat berkumpulnya banyak masyarakat Kota Bandung.

Lapangan Gasibu tidak hanya difungsikan sebagai sarana tempat berolahraga orang dari Bandung saja, namun gasibu juga sangat ramai sekali dan banyak para pedagang pada waktu hari minggu. Tidak heran kalau pada hari minggu di lokasi Gasibu ini akan menjadi super macet. Lapangan Gasibu ini juga sering digunakan para promotor even yang ingin menyelenggarakan sebuah acara di lapangan ini.

Gedung Sate merupakan salah satu ikon dari kota Bandung yang sekarang juga telah menjadi salah satu tempat wisata di Bandung. Khusus untuk wisatawan mancanegara banyak dari mereka yang memang sengaja datang berkunjung karena mempunyai keterkaitan history pada Gedung ini. Keterkaitan dengan history ini mungkin akan jauh terasa lebih lengkap jika pada saat menaiki anak tangga satu per satu yang tersedia menuju menara Gedung Sate. Terdapat 6 tangga yang harus dilewati dengan masing-masing 10 anak tangga yang harus dinaiki oleh pengunjung.

Keindahan dari Gedung Sate juga dilengkapi dengan adanya taman disekelilingnya yang terpelihara dengan sangat baik, tidak heran jika taman ini banyak diminati oleh masyarakat kota Bandung dan banyak para wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang berkunjung kesini. Keindahan yang dimiliki taman ini sering dijadikan lokasi kegiatan yang mempunyai nuansa kekeluargaan, lokasi shooting video klip musik baik untuk artis lokal maupun artis kelas nasional, lokasi foto keluarga atau foto diri sendiri bahkan foto pasangan pengantin.


Khusus pada waktu hari minggu lingkungan dari halaman Gedung Sate dijadikan sebagai pilihan tempat sebagian besar masyarakat Bandung untuk bersantai, sekedar duduk-duduk dan menikmati udara segar di kota Bandung atau untuk berolahraga ringan.

Membandingkan Gedung Sate ini dengan bangunan-bangunan dari pusat pemerintahan (capital building) yang ada di banyak ibukota negara sepertinya tidak terlalu berlebihan. Persamaannya yaitu semua dibangun di tengah kompleks hijau dengan memiliki menara sentral yang megah. Terlebih lagi dari segi letak gedung sate serta lanskapnya yang relatif cukup mirip dengan Gedung Putih di Washington, DC, Amerika Serikat. Bisa juga dikatakan kalau Gedung Sate adalah “Gedung Putih” nya kota Bandung.

Di bagian timur dan bagian barat terdapat dua ruangan besar yang akan mengingatkan pada sebuah ruang dansa (ball room) yang sering ada pada bangunan Eropa. Ruangan ini sekarang lebih sering dikenal dengan sebutan aula barat dan aula timur, dan sering digunakan untuk kegiatan resmi. Di sekeliling kedua aula ini juga terdapat ruangan-ruangan yang ditempati beberapa Biro dengan Stafnya.
Pada bagian paling atas terdapat lantai yang disebut Menara Gedung Sate, lantai ini tidak bisa dilihat dari bawah, untuk dapat sampai ke lantai teratas bisa menggunakan Lift atau dengan naik tangga kayu.

apangan GasibuKesempurnaan dan kemegahan yang dimiliki Gedung Sate juga dilengkapi dengan adanya Gedung Baru yang mengambil sedikit dari gaya arsitektur Gedung Sate namun dengan menggunakan gaya konstektual hasil karya dari seorang arsitek bernama Ir.Sudibyo yang dibangun pada tahun 1977 diperuntukkan bagi para Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah di Provinsi Jawa Barat dalam melaksanakan tugas dan fungsinya juga sebagai Lembaga Legislatif Daerah.

Lokasi Gedung Sate yang merupakan salah satu tempat wisata di Bandung ini berada di Jalan Diponegoro No. 22, Kelurahan Cihaurgeulis, Kecamatan Coblong. Lingkungan sekitar Gedung Sate merupakan suatu kawasan yang bersejarah, karena bangunan kuno peninggalan dari masa Kolonial Hindia Belanda di Bandung relatif banyak, seperti Museum Geologi, Museum Pos Indonesia, Gedung Dwiwarna, Rumah Tinggal dan lain sebagainya.

Secara Geografisnya Gedung Sate ini berada pada koordinat 107º37’07,9″ BT dan 06º54’05,4″ LS, dan disekitar gedung sekarang telah banyak berdiri bangunan perkantoran, pemukiman, dan pertokoan. Untuk dapat mencapainya relatif mudah karena melalui jalan raya dengan kondisi yang baik, menggunakan kendaraan pribadi roda 4 atau 2 maupun naik kendaraan umum (Bis/Angkot) yang lewat kawasan ini relatif banyak.

Untuk lebih mempermudah perjalanan wisata Anda menuju lokasi-lokasi tempat wisata di Bandung bisa memesan paket wisata Bandung dan jika Anda ingin lebih berhemat sewaktu liburan ke kota Bandung bisa mencari referensi hotel murah di Bandung. Jika Anda berasal dari jauh, setidaknya memesan mobil di rental mobil bandung yang sudah termasuk supir dan guide nya, demi kenyamanan dan kelancaran perjalanan wisata Anda. Selamat liburan ke Gedung Sate dan Lapangan Gasibu di Bandung dan tujuan wisata paling menarik lainnya seperti Kawah Putih!!